Total Tayangan Laman

Ayo Gabung

Senin, 14 November 2011

MEDIA SOSIAL DAN KOTBAH STAND UP COMEDY


Oleh : DHARMA SETYAWAN
Ketua Komunitas Hijau

Panggung-panggung kreasi di era digital semakin hari semakin berkembang tanpa henti. Aktualisasi manusia untuk melawan titik kejenuhan dan stagnasi perilaku dicerahkan dengan hal-hal baru. Semua itu dilakukan manusia untuk mencari kepuasan dari ritualisme beruntun yang selama ini melelahkan fisik dan fikiran. Jika dulu manusia mencari kepuasan dengan jalan ruhani, kini manusia telah berpindah arah dan berbondong-bondong pada gemerlap gelak tawa. Entah ini bentuk perlawanan dogmatis kehidupan atau kaburnya manusia pada sisi jenuh hidup beragama yang telah kalah dengan sisi pragmatisme keceriaan. Mungkin benar masyarakat diberbagai negara telah memunculkan kebencian pada wilayah sakralisme. Perilaku agamawan yang tidak bedanya dengan perilaku non agama membuat agama menjadi komoditas segelintir pihak. Hal ini adalah pukulan dan tanggungjawab bersama untuk menyajikan sikap baik sebagai wujud esensi makhluk ber-Tuhan.
Facebook, Televisi, Handpone pada faktanya telah menjadi simbol paganisme-paganisme baru yang mengalahkan ingatan manusia pada Tuhannya. Sesekali kita harus sadar bahwa Ibadah zikir (mengingat) kita kepada Tuhan jauh lebih sedikit dari pada sentuhan jemari kita pada handpone yang ada ditangan kita setiap hari. Gejala ini menandakan paganisme handpone semakin kuat memberi dogma pada pola fikir manusia. Namun diluar paganisme baru yang berkembang tersebut ada hal yang tidak bisa hilangkan bahwa manusia tetap punya peran otentik dalam setiap perubahan besar yang terjadi pada peradaban manusia. Hal ini yang perlu disadari manusia, sehebat apapun manusia menciptakan hal baru tetap memerlukan otoritas manusia untuk memerankannya. Media sosial yang terus berkembang, faktanya tetap membutuhkan manusia untuk memberikan kepuasan pada manusia. Lelucon, lawakan, humoris abstrak menjadikan manusia tetap membutuhkan sentuhannya sendiri. Mungkin begitulah antara Tuhan dan manusia, yang tidak pernah mungkin manusia akan mampu meninggalkan Tuhan. Karena Tuhan tidak butuh manusia tapi manusia butuh Tuhan. Manusia tidak butuh handpone tapi handpone dapat dibutuhkan jika disentuh manusia.
Stand Up Comedy dan New Habitus Media
Panggung media sosial memang tidak pernah punah. Baru-baru ini Stand Up Comedy menarik perhatian banyak manusia, bukan hanya di Indonesia tapi diberbagai negara Stand Up Comedy mulai digemari. Stand Up Comedy yang menampilkan lawakan individu di cafe-cafe mulai menjadi ritualisme baru khususnya bagi kalangan muda. Entah sebagai ritualisme pengganti ibadah atau sekedar pemuas kejenuhan fikir yang hinggap dibenak mereka. Mono comedy yang diperankan secara lepas ini menarik untuk disimak mengingat pasar minat kaum muda cukup signifikan untuk mendongkrak Cafe menjadi ramai pengunjung. Ritualisme lawakan Stand Up Comedy menjadi habitus baru bagi kaum muda, sebagai ajang pementasan dan melepas hasrat.Komunikasi sosial, tertawa riang, kritikan pedas, perlawanan primordial, kerap kencang disuarakan di komunitas tersebut. Bahkan sesekali lawakan tersebut berani menghardik kebekuan dan stagnasi manusia dalam meneguhkan kebenaran yang sesungguhnya. Lawakan lepas tersebut bahkan mampu menelanjangi kekerasan dengan sindiran yang lunak dan menghibur riang.
Beberapa nama kaum muda yang melejit dengan Stand Up Comedy adalah Raditya Dika. Sosok muda energik melepaskan kritik pedas kepada siapapun dilawakan individunya. Pandji Pragiwaksono  juga menjadi sosok muda yang ikut meramaikan Stan Up Comedy dalam berjejaring dengan komunitas kaum muda lainnya. Mereka berdua kini pun aktif di sebuah acara televisi yang gencar mengajak kaum muda untuk peduli terhadap masalah politik ekonomi di Indonesia. Pandji pun berkelakar bahwa lawakan individunya untuk menyuarakan pesan terhadap cara beragama yang selama ini tidak sesuai dengan dogma dan realita. Sering lawakannya juga mengkritik kasus politik yang selalu ruwet.  Selain nama di atas muncul nama Rony “Monggol” Imanuel. Seorang ruhani gereja ini pun terkenal dengan gaya lawakan yang pedas mengupas kesukuan, praktek agama Nasrani yang salah.Monggol pun mengkritik tentang cara doa agama Nasrani yang menutup mata saat berdoa. Ketika selesai berdoa, salah satu jamaah kehilangan tasnya. Kritik yang diungkapkannya pun pedas tapi penuh manis tawa terhadap para jamaah. Bahwa menutup mata saat berdoa memberi kesempatan si pencuri untu beraksi. Gaya Stand Up Comedy perlawanan dogma agama sering  juga dipakai Mongol dalam kotbah-kotbah gereja yang dia suarakan.
Stand Up Comedy memang sedang tumbuh subur di negeri ini bahkan juga di negara lain. Namun dalam konteks lawakan Indonesia gaya Stand Up tidak asing dan telah dilakukan oleh pelawak kawakan seperti Warung Kopi (Dono, Kasino, Indro). Hanya saja mereka melakukannya dengan grup. Pada era sekarang Stand Up Comedy akhirnya disambut baik oleh beberapa media seperti Kompas TV dan Metro TV yang memberikan acara khusus untukStand Up Comedy. Bahkan sekarang Stand Up Comedy menjadi gaya baru lawakan-lawakan untuk membunuh kejenuhan.
Menjaga Stand Up Comedy dari Over-liberal
Stand Up Comedy tidak hanya menjadi kotbah baru di cafe-cafe metropolitan, tapi meramu kaum muda untuk bermedia sosial secara fisik. Mempertemukan ide kebebasan, melawan hegemoni ritualisme statis, dan mengkritik primordial negatif yang terlalu mendogma. Kotbah Stand Up Comedy memang ide kebebasan yang orisinil dan menyuarakannya dengan gaya lucu yang lepas. Pada wilayah positif kita akan menemukan pencerahan-pencerahan yang tidak kita temukan pada komunitas agama.Tapi pada wilayah negatif Stand Up Comedy dapat juga menjadi efek buruk bagi pemikiran muda yang dapat over-liberal. Gaya lawakan yang bebas tanpa kontrol juga sesekali meleset menjadi lelucon yang banyak membahas ungkapan dan mimik erotisme bahkan pada wilayah pornografi. Jika kita sama-sam mencermati, yang lucu dan yang tabu untuk diucapkan, kadang menjadi satu kasatuan lucu yang bisa membuat semua orang sama-sama tertawa. Namun kaum muda juga tidak bisa begitu saja menerima lawakan porno yang mereka konsumsi dengan cara buta. Jika tidak ada kontrol maka ucapan yang keluar dapat menjadi bid’ah intelektual (pemikiran sesat) bagi kaum muda. Tapi sebagai kaum muda kita juga wajib menjaga, agar lawakan cerdas yang lebih banyak ditumbuhkan, bukan pada sisi tabu yang mengikis energi kita untuk mengabdi kepada Tuhan.
Kaum muda juga harus mampu menilai kualitas lawakan yang akan mengarah pada kecerdasan atau pornografi. Bahkan kita perlu mengapresiasi lawakan Stand Up yang cerdas dalam memberi masukan pada kebijakan publik. Rotasi masa pun sebenarnya bisa dibangun untuk mengecam tindakan korup para elit politik. Lewat Stand Up Comedy yang beretorika cerdas dan tajam dapat menjadi pemantik kesadaran kaum muda akan perubahan yang harus dilakukan pada kondisi stagnasi kepemimpinan bangsa. Komunitas lawak ini akan menjadi simpul perubahan jika dimanajemen dengan baik sebagai lahan subur menanam idealisme dan membunuh pragmatisme. Bahkan jika mampu lawakan-lawakan para kiayi yang lebih sering dominan terhadap kelucuan perlu memasuki ruang Stand Up Comedy untuk mengimbangi kotbah secara lebih menarik dan memikat kaum muda. Ide segar yang dibangun pada kiayi di Stand Up lebih memberi kenyamanan kaum muda agar tidak phobia beragama. Stand Up Comedy juga menjadi wadah baru bagi komunitas muda yang ingin mendekatkan kebenaran, kejujuran dan meneguhkan manusia dalam ekstensi ber-Tuhan. Semoga!







TENTANG PENULIS

Nama             : Dharma Setyawan
TTL                 : LAMPUNG, 29 Mei 1988
Alamat           : Lingkungan IV Rt/Rw 006/007 Purwoasri Metro Lampung
NO Hp            : 0857 6814 1684/ 0812 7264 2232
            Mahasiswa Ekonomi Islam Sekolah Pascasarjana UGM,  Aktif Di KAMMI Jogjakarta.
Sejumlah tulisan terbit di media Media Indonesia, Lampung Post, Radar Lampung, Solo Post, Bali Post, Metro Siantar , OkeZone, Detik.com, Hidayatullah.com, Islamedia.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini

SLIDE FHOTO